Masih Berparadikma Skeptis? Yuk Kenali Mitos Dan Fakta Seputar Orang Difabel

Menjadi seorang Difabel atau berkebutuhan khusus adalah bukan pilihan. akan tetapi, sanggupkah kita menentang hal yang telah digariskan?

Mendapatkan kenikmatan hidup yang gratis, maukah kita menerima dan tidak menganggap bahwa ini adalah sesuatu yang ironis?

Melawan diskriminasi hanyalah sebuah narasi, kenyataannya mereka masih ada di dalam zona marginalisasi.

Penulis yang telah lama terkurung di dalam zona ini, kini saatnya untuk berbagi fakta yang tentu bukan sebuah asumsi.

Berikut ini merupakan mitos yang menjelma menjadi stigma masyarakat mengenai orang difabel : ◾orang difabel memiliki strata lebih rendah dan kehidupannya sangat berbeda dengan orang yang mengasumsikan dirinya sebagai orang normal.

Pembahasan : dalam hal ini, para difabel dapat melakukan hal yang sama dengan orang lain dan mampu untuk mendapat pencapaian yang sama pula.

Hal yang sedikit berbeda adalah cara mereka meraihnya. sebagai contoh ketika orang lain dapat melihat objek di sekitarnya dengan mata, namun para difabel netra ini dapat melakukannya dengan telinga dan indera peraba karena mereka sangat bergantung pada suara dan rasa.

Ketika seorang difabel netra hendak menuju ke suatu tempat misalnya, maka mereka menggunakan tongkat untuk meraba objek di depannya dan mengaktifkan pendengarannya untuk membantu mengamati keadaan di sekitarnya.

Teknologi pun memungkinkan para difabel untuk melangsungkan dinamika kehidupannya yang mengalami kemajuan pesat. Lahirnya pembaca layar dan aplikasi aksesibilitas lainnya membuat para difabel terjun kedalam lingkaran industri 4.0 yang sedang dan akan direalisasikan oleh kita semua.

Ada pula difabel pendengaran yang menggunakan bahasa isyarat dan gerak bibir untuk mendeteksi aapa yang sedang diucapkan lawan bicaranya.

Fakta tersebut jika dimengerti secara nalar akan melahirkan sebuah pemikiran bahwa strata orang difabel adalah setara dengan orang yang mengasumsikan dirinya sebagai orang normal. Jadi, sangat dimungkinkan bahwa orang-orang difabel itu memiliki kapabilitas dan budaya yang sama dengan orang lain.

◾Orang difabel harus dimaafkan, dikasihani dan dimaklumi tindakan-tindakannya

Pembahasan : satu kalimat yang pantas untuk mitos ini adalah bahwa “difabel bukan alien.”

Mereka juga makhluk sosial sehingga berkemungkinan besar memiliki tanggungjawab untuk hidup sebagaimana manusia yang berakal dan berbudaya, Jadi, tidak ada alasan untuk memaklumi semua yang dilakukan asalkan kita proporsional untuk menilai bahwa tindakan yang dilakukannya baik atau buruk.

Sebagai contoh, ketika kita melihat orang difabel berlaku tidak sopan terhadap seseorang, maka kita berhak sepenuhnya untuk menegurnya atau bahkan memberi sangsi sosial yang diperlukan sebagai peringatan agar tidak mengulanginya lagi dikemudian hari. Satu hal yang perlu kita fahami bersama bahwa para difabel berkedudukan sama dihadapan hukum, jadi tidak ada alasan untuk tidak melaporkan tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh orang difabel.

Para difabel pula tidak memerlukan rasa belaskasihan dari orang lain. hal ini sangat beralasan, karena sebenarnya para difabel hanya menginginkan pengertian dari masyarakat.

Pemenuhan fasilitas, memposisikan para difabel yang sejajar dengan masyarakat lain dan pemenuhan hak-hak para difabel itulah yang sesungguhnya mereka inginkan.

◾Orang difabel itu pemarah dan selalu nekat.

Pembahasan : personalitas manusia pasti beragam sehingga karakter pun sangat sukar untuk dikatakan sama, kalimat itulaah yang sesuai untuk menjawab asumsi ini.

Kita sepakat bahwa kita akan marah ketika merasa terhina dan direndahkan, itulah yang mereka rasakan.

Kenekatan dan kemarahan yang mereka expresikan merupakan output dari pemikiran mereka yang merasa direndahkan dan terhina. Jadi, satu saran yang pantas untuk dikatakan adalah hormati pemikiran mereka yang revolusioner.

Mengapa demikian? Mereka hanya ingin merubah keadaan secara radikal agar cita-cita mereka yang setara dengan orang lain terpenuhi, mereka hanya ingin dianggap ada baik secara fisik maupun moral, mereka juga ingin berkontribusi untuk kemajuan pembangunan di negeri yang katanya “tanah surga” ini.

Semoga artikel ini dapat menginspirasi. Renungkanlah kata demi kata, kalimat demi kalimat, metafora demi metafora sehingga yakin bahwa kata marginalisasi akan bermetamorfosis menjadi kata revolusi yang akan berdampak pada tatanan masyarakat yang inklusi.

Tags: Https://www.vebma.com/inspirasi/daniel-Kish-Difabel-Netra-Yang-Bisa-Melihat-Dengan-Lidah/60538

Inspirasi 2 months ago
Loading...
10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia

10 Ide Unik Melipat Handuk, Nomer 5 Wajib Dicoba

Orang kreatif selalu mempunyai banyak ide, bahkan benda sepele pun bisa menjadi sesuatu seni yang unik dan enak dipandang mata. Misal saja handuk, benda yang biasanya dipakai untuk mengeringkan badan setelah mandi ini ternyata bisa dijadikan seni yang unik. Yaitu dinamakan seni melipat handuk.

close

Mengenal Vebma

Apa itu Vebma? Vebma adalah sebuah media yang di peruntukkan untuk siapapun yang ingin menulis, membagikan ide, pengetahuan dan info apa saja untuk di ketahui umum umum.

Apa yang anda dapat?

Kamu akan di bayar untuk setiap View yang dihasilkan artikel yang kamu tulis.

Apa saja yang bisa kamu tulis?
Kamu bisa menuliskan apa aja yang ingin kamu ketahui dan kamu pelajari untuk kamu bagikan.

Advertiser
hello@vebma.com