Perjanjian Brexit Tak Kunjung Di Setujui

Perjanjian Brexit Tak Kunjung Di Setujui

Referendum 'Brexit' adalah pemungutan suara dari seluruh warga negara Inggris, Irlandia Utara, Wales dan Skotlandia, untuk memutuskan apakah Britania Raya harus keluar dari Uni Eropa atau tetap berada di Uni Eropa.  Pada tahun 2015, Perdana Menteri David Cameron, berjanji jika dia terpilih dalam pemilu, maka ia akan menyelenggarakan referendum terkait apakah Inggris akan keluar atau tetap dalam Uni Eropa.  Jadi sebenarnya isu Brexit ini sudah lama muncul namun baru akhir-akhir ini menjadi fokus alias perhatian investor karena referendum keanggotaan Uni Eropa akan diselenggarakan hari ini 23 Juni 2016.

Pada tahun 1975, Inggris juga pernah mengadakan referendum apakah akan keluar sebagai anggota Uni Eropa atau tetap di dalam Uni Eropa. Pada waktu itu diputuskan, Inggris tetap berada di dalam Uni Eropa. Namun ada sekelompok golongan yang merasa bahwa sejak tahun 1975 tersebut, Uni Eropa semakin mengontrol kehidupan sehari-hari mereka.

Selain itu, sebagian rakyat Inggris merasa bahwa Inggris terbebani oleh Uni Eropa, di mana Uni Eropa membuat peraturan yang dinilai banyak membatasi bisnis di Inggris. Hal lain yang menjadi pertimbangan bagi Inggris untuk keluar dari Uni Eropa adalah karena Uni Eropa menarik uang untuk biaya keanggotaan sejumlah miliaran dolar dan Inggris merasa hanya sedikit keuntungan yang diperoleh.

Ada lagi hal lainnya yang menjadi pertimbangan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa yaitu salah satu prinsip Uni Eropa tentang 'Free Movement' yang membawa banyak imigran datang dan menetap di Inggris. Keputusan apakah Inggris akan keluar dari Uni Eropa atau tidak menjadi perhatian masyarakat Inggris sendiri dan masyarakat Uni Eropa yang bekerja di Inggris. Ada banyak ketidakpastian yang akan terjadi jika Inggris keluar dari Uni Eropa.

Salah satu prinsip Uni Eropa tentang "Free Movement" sebenarnya telah memberikan dampak yang sangat signifikan bagi Inggris baik secara positif maupun negatif. Ada sekitar 800 ribu masyarakat Polandia yang bekerja dan menetap di Inggris, dan belum termasuk sumber daya manusia dari negara lain dari Uni Eropa. Jika Inggris keluar dari Uni Eropa, maka banyak SDM yang berasal dari luar Inggris akan menggantung nasibnya, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.

Selain itu, Inggris sendiri juga akan mengalami "kerugian". Ekonom mengatakan bahwa, perusahaan di Inggris akan kerepotan untuk mencari posisi pengganti jika banyak SDM yang potensial dari luar Inggris yang dikeluarkan, dan hal itu akan berpengaruh pada perlambatan perekonomian. Tidak hanya kehilangan "talent" namun Inggris juga akan kerepotan jika banyak SDM di posisi "kecil" dikeluarkan secara massal.

Konon, di Inggris, jarang sekali ada orang yang mau bekerja sebagai pelayan toko atau restoran. Posisi seperti itu diisi oleh warga Uni Eropa di luar Inggris. Perdana Mentri Inggris Theresa May kembali mengajukan kesepakatan Brexit menit terakhir kepada para anggota parlemen untuk mendukung kesepakatan Brexit yang diajukannya setelah ia mengamankan jaminan hukum soal 'pintu belakang'  Irlandia Utara dari Uni Eropa  tetapi di tolak oleh anggota parlemen Inggris dengan pemungutan suara selisih suara sebesar 149 suara - lebih sedikit dibandingkan ketika mereka menolaknya Januari lalu.

Kesepakatan itu ditolak setelah 242 anggota mendukungnya, sementara 391 lainnya menolak kesepakatan tersebut. Sebanyak 75 anggota parlemen dari Partai Konservatif tidak menyetujui kesepakatan tersebut, angka yang lebih sedikit dibandingkan pemungutan suara Januari lalu, di mana 118 anggota Konservatif menolaknya. Sebanyak 10 anggota parlemen dari Partai Unionis Demokratis juga menolak kesepakatan itu, demikian halnya Partai Buruh, Partai Nasional Skotlandia dan partai-partai oposisi lain.

 Di sisi lain, tiga anggota parlemen Partai Buruh - Kevin Barron, Caroline Flint dan John Mann  mendukung kesepakatan yang diajukan May. Pemberlakuan Pasal 50 Perjanjian Uni Eropa oleh Britania Raya adalah tahap utama dalam pencabutan keanggotaan Britania Raya dari Uni Eropa (UE), biasa disebut Brexit. Pemberlakuan Pasal 50 (2) adalah proses penyampaian surat pemberitahuan resmi kepada Dewan Uni Eropa perihal keinginan sebuah negara anggota untuk keluar dari UE sehingga negosiasi pencabutan keanggotaan dapat dimulai sesuai Perjanjian Uni Eropa.

 Setelah di tolak oleh para anggota parlemen Perdana Mentri May akan kembali mengundur permohonan kesepakatan kembali hingga 30 Juni mendatang. May mengatakan bahwa penundaan ini sangat penting agar Inggris dapat memastikan negaranya keluar dengan cara paling baik setelah menjadi anggota Uni Eropa selama 46 tahun.

Perdana Mentri May juga akan mempertaruhkan jabatannya asalkan dengan syarat seluruh anggtoa parlemen harus menyetujui permohonan untuk perjanjian Brexit. Tapi untuk bisa meloloskan Perjanjian Brexit di parlemen, Theresa May masih perlu dukungan mitra koalisinya Partai Unionis Demokrat DUP dari Irlandia Utara, yang selama ini bersikeras menolak Perjanjian Brexit.

Tags: Politik, Internasional, Perjanjian Internasional

News 1 month ago
Loading...
10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia

10 Ide Unik Melipat Handuk, Nomer 5 Wajib Dicoba

Orang kreatif selalu mempunyai banyak ide, bahkan benda sepele pun bisa menjadi sesuatu seni yang unik dan enak dipandang mata. Misal saja handuk, benda yang biasanya dipakai untuk mengeringkan badan setelah mandi ini ternyata bisa dijadikan seni yang unik. Yaitu dinamakan seni melipat handuk.

close

Mengenal Vebma

Apa itu Vebma? Vebma adalah sebuah media yang di peruntukkan untuk siapapun yang ingin menulis, membagikan ide, pengetahuan dan info apa saja untuk di ketahui umum umum.

Apa yang anda dapat?

Kamu akan di bayar untuk setiap View yang dihasilkan artikel yang kamu tulis.

Apa saja yang bisa kamu tulis?
Kamu bisa menuliskan apa aja yang ingin kamu ketahui dan kamu pelajari untuk kamu bagikan.

Advertiser
hello@vebma.com