Kenapa Kita Gaduh Ketika Menyikapi Prostitusi?

Kenapa Kita Gaduh Ketika Menyikapi Prostitusi?

Sebuah notifikasi dari aplikasi nichat muncul di ponsel setelah saya menginstal aplikasi tersebut. Maklum, sebagai penikmat kesendirian terkadang saya jenuh sehingga muncul pikiran untuk mencari kekasih, lalu saya iseng menginstal beberapa aplikasi berkirim pesan.

Luar biasa, baru instal saja sudah ada yang kirim pesan, pikir saya awalnya. Harapan saya pupus karena pesan masuk tersebut hanyalah pesan dari aplikasi yang menjelaskan tata cara pemakaiannya. Saya baca kemudian penjelasannya.

Di salah satu menu, ada yang namanya lihat sekitar, untuk mengecek siapa saja yang berada dekat dengan kita dalam radius beberapa kilometer. Luar biasa, banyak cewe cantik dan manis di sana. Mungkin saja salah satunya bisa jadi cemceman nanti.

Tak lama, sebuah permintaan pertemanan masuk, saya terima saja. Cewe itu mulai bertanya, “Abang tinggal di mana?”

“Di Pattimura,” jawab saya sekenanya. Padahal posisi sebenarnya agak jauh dari yang disebutkan.

“Mau BO bang? Datang ke hotel adek ya, 800,” jawabnya lagi.

“Eh, anu, mau kenalan aja gak?” saya coba mengalihkan pembahasan, karena sejujurnya saya hanya ingin mencari teman. Syukur-syukur bisa jadi teman dekat.

“Oh. Engga bang,” jawabnya lagi sambal menutup pembahasan. Eh, tak lama saya di blokir. Apes.

Kurang lebih seperti itulah penggambaran prostitusi online yang saya tahu. Saya terkadang heran kenapa jika artis terjerat kasus prostitusi, pasti ramai berita yang memuat tentangnya, padahal jika pekerja prostitusi biasa terjaring razia paling hanya direhabilitasi.

Kalau artis saja, ribut, heran deh. Ya ga terlalu heran sih. Orang kita kan memang suka keributan, seperti slogan yang selalu dituliskan pembaca setia infotwitwor.

Bahkan jika tidak ada keributan, maka harus dicari supaya ada gaduh sehingga yang lain bisa menikmatinya sambal makan mi dan minum kopi. Eheu.

Dua hari lalu polisi menggrebek sebuah hotel dan mendapati dua publik figur tengah melakukan transaksi prostitusi. Awalnya Polda Jawa Timur mendapat laporan dari masyarakat bahwa terjadi prostitusi elektronik. Saya jadi curiga, jangan-jangan yang melaporkan ini pembaca setia infotwitwor dana kun serupa yang haus akan keributan.

Nama-nama artis tersebut lalu terungkap di media. Tak hanya satu berita, beberapa media bahkan menurunkan berita berseri terkait kasus ini. Hal ini tentu memunculkan gairah netizen yang budiman untuk langsung membubuhkan tanda tangan serta ucapan bernada “maaf hanya sekadar mengingatkan” di kolom komentar artis tersebut.

Hal ini lantas membuat saya penasaran, sejauh apa komentar netizen budiman tersebut. Saat saya lihat postingan terakhir di Instagram yang bersangkutan, waah, ada lebih dari lima puluh ribu komentar di sana.

Komentarnya pun beragam, ada yang bercanda dengan bertanya “apakah prostitusi online bentrok dengan prostitusi pangkalan”, ada yang merasa lebih baik dengan berkata “setinggi apapun tarifmu tetap lebih rendah di mata Allah SWT”, ada yang mendukung dan menyemangati, ada juga yang sekadar meminta link downloadnya (netizen bersatu, tak bisa dikalahkan).

Saya terkadang takjub dengan netizen Indonesia. Jika membahas politik maka polarisasi akan terlihat kentara di kolom komentar dengan berbagai atribut umpatannya. Tapi jika membahas urusan kelamin, maka polarisasi itu akan melebur sehingga terbentuk komunal yang solid, terlebih bagi para peminta link (lagi-lagi netizen bersatu, tak bisa dikalahkan).

Jika dilihat, perbedaan jumlah komentar di postingan terakhir sangat jomplang dibandingkan dengan postingan lainnya yang hanya mendapat ratusan komentar saja.

Tak hanya Instagram, perbincangan terkait artis tersebut juga ramai di jagat Youtube dan Twitter. Berbagai video yang di re-re-re-reproduksi (istilah saya untuk video yang dibuat dari video orang lain yang ternyata hasil video orang lain dan orang lain itu juga dapat dari video orang lain), video reaksi public figure lain, dan ratusan video lainnya muncul begitu saya ketik nama artis yang bersangkutan.

Jika di Twitter, cuitan receh sampai serius tentang #80juta ataupun #menjemputrejeki2019 bertebaran, bahkan menjadi trending topik. Beberapa cuitan receh mempertanyakan 80 juta bisa dapat apa saja, ada yang mengandaikan dengan jumlah mi instan yang bisa di dapat, ada juga yang mengandaikan dengan jumlah cilok yang bisa dibeli dengan uang segitu. Dasar sobat misqueen, perhitungan amat sih.

MOJOK bahkan ikut menyindir orang-orang yang membahas tentang 80 juta dengan membuat cuitan, “Biasanya sich sebagian besar yang komen 80 juta mending buat dst dst~ kemungkinan besar nga bakal bisa punya duit 80 juta. FYI aja~”. Eheu, iya juga sih. Saya mah kalau punya uang segitu langsung beli tanah di daerah.

Setelah berjelajah media sosial dan puluhan berita online, saya heran kenapa hanya pemberi jasa saja yang identitasnya dibuka dan ramai-ramai diperbincangkan sedangkan pria yang penikmat jasa tidak ditampilkan atau disebut namanya, hanya inisial dan pekerjaannya.

Saya kemudian coba bertanya pada asisten gugel, kenapa dalam kasus prostitusi hanya pemberi jasanya yang dipojokkan? Terlebih ketika dia merupakan public figur.

Tapi asisten gugel tidak memberi jawaban yang memuaskan. Saya akhirnya bertanya pada diri saya sendiri, karena saya memang masih sendiri.

Setelah artis tersebut diperiksa selama 24 jam (lama juga ya, saya bisa menghabiskan waktu itu untuk menamatkan Prince of Persia Warrior Within), artis tersebut bersama pengusaha yang menggunakan jasanya dibebaskan.

Ada hal yang janggal menurut saya, ketika dia dibebaskan, dia minta maaf ke pada publik atas kerugian yang ditimbulkannya. Menurut saya, si mbak ga perlu minta maaf ke publik. Karena orang-orang yang bekerja di situ ada buuuanyak banget, mbak tidak sendiri.

Lagian menurut saya, prostitusi itu sulit untuk dihilangkan dari bumi, ia sudah mengakar sejak ribuan tahun lalu dan bisa saja ada sepanjang sejarah manusia.

Saya teringat perkataan Moammar Emka, Penulis buku Jakarta Undercover. Buku tersebut hasil penelitiannya menjelajahi berbagai sisi kelam dan seksualitas di Jakarta.  Ia cerita prostitusi sebenarnya secara aktivitas adalah kegiatan di ranah privat. Hubungan badan orang, itu memang privasi mereka. Tapi jika dilihat berdasarkan tempat melakukan transaksi, maka bisnis ini terbagi dua. Ada di ranah privat, ada juga di ranah publik.

Prostitusi di ranah privat misalnya di kos-kosan, apartemen, dan rumah. Prostitusi di ranah ini jumlahnya banyak, namun skalanya usahanya kecil, hanya melibatkan individu per individu. Sementara prostitusi di ranah publik seperti karaoke, sauna, panti pijat, dan diskotek dengan segala macam kedoknya memiliki skala yang besar. Pemain bukan hanya individu, tapi ada kelompok. Disitu perputaran uangnya besar, maka tak heran kalau bisnis ini tak pernah padam.

“Prostitusi di tempat privat itu ibarat ikan kecil. Pemerintah seringkali menjaring ikan-ikan kecil tapi mereka lupa bahwa ikan-ikan besar bebas berkeliaran di sekitarnya,” cerita Emka ke saya pada suatu waktu.

Iya sih, saya kira kalau pemerintah memang mau menata prostitusi harus langsung menjaring ikan besarnya, baru kemudian mempersempit mata jaring untuk kelas di bawahnya. Lagipula pemerintah punya kuasa untuk menata bisnis prostitusi yang berada di ranah publik. Dalam Perda Kepariwisataan biasanya tertulis pengusaha pariwisata memiliki kewajiban menjaga dan menghormati norma agama, budaya, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat.

Jika melanggar atau menyalahi aturan maka izin usahanya bisa dihentikan, seperti yang terjadi di Alexis, Jakarta.

Jangankan izin usaha, dalam pacaran saja jika melanggar atau menyalahi aturan yang sudah dikomitmenkan bersama maka bisa dipastikan hubugan tersebut akan kandas. Tuh kan, saya jadi teringat hubungan saya yang lama. Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu, mari buka lembaran baru~~

Tags: Kasus Prostitusi, Prostitusi, Artis, Sikap Yang Baik

Opini 4 months ago
Loading...
10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia

10 Ide Unik Melipat Handuk, Nomer 5 Wajib Dicoba

Orang kreatif selalu mempunyai banyak ide, bahkan benda sepele pun bisa menjadi sesuatu seni yang unik dan enak dipandang mata. Misal saja handuk, benda yang biasanya dipakai untuk mengeringkan badan setelah mandi ini ternyata bisa dijadikan seni yang unik. Yaitu dinamakan seni melipat handuk.

close

0
Followers

Mengenal Vebma

Apa itu Vebma? Vebma adalah sebuah media yang di peruntukkan untuk siapapun yang ingin menulis, membagikan ide, pengetahuan dan info apa saja untuk di ketahui umum umum.

Apa yang anda dapat?

Kamu akan di bayar untuk setiap View yang dihasilkan artikel yang kamu tulis.

Apa saja yang bisa kamu tulis?
Kamu bisa menuliskan apa aja yang ingin kamu ketahui dan kamu pelajari untuk kamu bagikan.

Advertiser
hello@vebma.com