Kekuasaan: Pengertian, Sumber, Teori, Legitimasi, dan Dimensi

Pengertian 1 month ago
Kekuasaan: Pengertian, Sumber, Teori, Legitimasi, dan Dimensi

W.A. Robson, dalam The University Teaching of Social Sciences mengatakan ilmu politik adalah pelajaran yang memperlajari kekuasaan dalam masyarakat, yaitu sifat hakiki, dasar, proses-proses, ruang lingkup, dan hasil-hasil. Fokus perhatian seorang sarjana ilmu politik tertuju pada perjuangan untuk mencapai atau mempertahankan kekuasaan, melaksanakan kekuasaan atau pengaruh atas orang lain, atau menentang pelaksanaan kekuasaan itu.

Maka dari itu, agar kita bisa melek politik, akan sangat perlu untuk kita bisa mengerti semua konsep tentang kekuasaan. Sila pahami penjelasannya di sini.

Pengertian Kekuasaan

Berikut pengertian kekekuasaan menurut pendapat beberapa ahli:

  • Miriam Budiardjo: “Kekuasaan adalah kemampuan seorang pelaku untuk memengaruhi perilaku seorang pelaku lain, sehingga perilakunya menjadi sesuai dengan keinginan dari pelaku yang mempunyai kekuasaan.”
  • Ramlan Surbakti: “Kekuasaan adalah kemampuan memengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang memengaruhi.”
  • Max Weber: “Kekuasaan adalah kemampuan untuk, dalam suatu hubungan sosial, melaksanakan kemauan sendiri sekalipun mengalami perlawanan, dan ada pun dasar kemampuan itu.”
  • Harold D. Laswell dan Abraham Kaplan: “Kekuasaan adalah sesuatu hubungan di mana seseorang atau sekelompok orang dapat menentukan tindakan seseorang atau kelompok lain kearah tujuan dari pihak pertama.”
  • Barbara Goodwin: “Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengakibatkan seseorang bertindak dengan cara yang oleh yang bersangkutan tidak akan dipilih, seandainya ia tidak dilibatkan. Dalam kata lain memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehenaknya.”
  • Walterd Nord: “Kekuasaan adalah suatu kemampuan agar dapat mempengaruhi aliran energi dan juga dana yang tersedia agar dapat mencapai suatu tujuan yang tidak sama dan secara jelas dari tujuan yang lainnya.”
  • Bertrand Russell: “Kekuasaan adalah  suatu produksi dari akibat yang diinginkan.”
  • Robert Bierstedt: “Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempergunakan kekuatan.”
  • Robert Mac Iver: “Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengendalikan tingkah laku orang lain baik secara langsung dengan jalan memberi perintah / dengan tidak langsung dengan jalan menggunakan semua alat dan cara yg tersedia.”
  • Amitai Etzioni: “Kekuasaan adalah  kemampuan  untuk mengatasi sebagian atau semua perlawanan, untuk mengadakan perubahan perubahan pada pihak yang memberikan oposisi.”
  • Carl Rogers: “Kekuasaan adalah kemampuan seseorang untuk mengubah orang atau kelompok lain dalam cara yang spesifik.”
  • Michel Foucault: “Kekuasaan adalah kemampuan yang berdasarkan pada pengetahuan dan memanfaatkan pengetahuan; di sisi lain, kekuatan mereproduksi pengetahuan dengan membentuknya sesuai dengan maksud tertentu.”
  • Talcott Parsons: “Kekuasaan adalah kemampuan untuk menjamin terlaksananya berbagai kewajiban yang mengikat, oleh kesatuan-kesatuan dalam sistem organisasi kolektif.”

Sumber Kekuasaan

Sumber kekuatan dapat berupa kedudukankekayaan, atau kepercayaan. Misalnya berupa kedudukan dapat dicontohkan pada seorang komandan terhadap anak buahnya atau seorang majikan terhadap pegawainya. Dalam kasus ini bawahan dapat ditinak jika melanggar disiplin kerja atau melakukan korupsi.

Sumber kekuasaan juga dapat berupa kekayaan. Misalnya seorang penguasaha kaya mempunyai kekuasaan mempunyai kekuasaan atas seorang politikus atau seorang bawahan yang mempunyai utang.

Selain itu kekuasaan dapat pula bersumber dari kepercayaan atau agama. Ambil contoh alih ulama yang mempunyai kekuasaan terhadap umatnya, sehingga mereka dianggap sebagai pemeimpin informal yang perlu diperhitungkan dalam proses pembuatan keputusan.

Sumber kekuatan juga dapat dibedakan antara dua istilah yang menyangkut konsep, yaitu cakupan kekuasaan (scope of power) dan wilayah kekuasaan (domain of power). Cakupan kekuasaan sendiri merujuk kepada kegiatan, perilaku, serta sikap dan keputusan-keputusan yang menjadi objek kekuasaan. Misalnya, seorang direktur perusahaan mempunyai kekuuasan untuk memecat seorang karyawan, akan tetapi tidak mempunyai kekuasaan terhadap karyawan dari luar hubungan kerja.

Sedangkan istilah wilayah kekuasaan menjawab pertanyaan siapa-siapa saja yang dikuasai oleh kelompok yang berkuasa (pelaku, kelompok organisasi, kolektivitas yang kena kekuasaan). Misalnya seorang direktur perusahaan mempunyai kekuasaan atas semua karyawan dalam perusahaan tersebut, baik yang di pusat maupun yang di cabang.

Teori Kekuasaan

French dan Raven pernah mengemukakan teori-teori tentang kekuasaan yang dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu:

  • Kekuasaan imbalan (insentif power), yaitu kemampuan seseorang untuk memberikan imbalan kepada orang lain (pengikutnya) karena kepatuhan mereka. Jika seseorang memandang bahwa imbalan yang ditawarkan seseorang atau organisasi, yang mungkin sekali akan diterimanya, mereka akan tanggap terhadap perintah.
  • Kekuasaan paksaan (coercive power),  yaitu kekuasaan untuk menghukum. Para manajer menggunakan kekuasaan jenis ini agar para pengikutnya patuh pada perintah karena takut pada konsekuensi tidak menyenangkan yang mungkin akan diterimanya.
  • Kekuasaan sah (legitimate power), yaitu kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain karena posisinya. Seorang yang tingkatannya lebih tinggi memiliki kekuasaan atas pihak yang berkedudukan lebih rendah.
  • Kekuasaan pakar/ahli (expert power), yaitu seseorang mempunyai kekuasaan ahli jika ia memiliki keahlian khusus yang dinilai tinggi. Seseorang yang memiliki keahlian teknis, administratif, atau keahlian yang lain dinilai mempunyai kekuasaan, walaupun kedudukan mereka rendah.
  • Kekuasaan rujukan (referent power), yaitu banyak individu yang menyatukan diri dengan atau dipengaruhi oleh seseorang karena gaya kepribadian atau perilaku orang yang bersangkutan. Karisma orang yang bersangkutan adalah basis kekuasaan rujukan.


Legitimasi Kekuasaan

Dalam pemerintahan mempunyai makna yang berbeda: "kekuasaan" didefinisikan sebagai "kemampuan untuk memengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu yang bila tidak dilakukan", akan tetapi "kewenangan" ini akan mengacu pada klaim legitimasi, pembenaran dan hak untuk melakukan kekuasaan. Sebagai contoh masyarakat boleh jadi memiliki kekuatan untuk menghukum para kriminal dengan hukuman mati tanpa sebuah peradilan sedangkan orang-orang yang beradab percaya pada aturan hukum dan perundangan-undangan dan menganggap bahwa hanya dalam suatu pengadilan yang menurut ketenttuan hukum yang dapat memiliki kewenangan untuk memerintahkan sebuah hukuman mati.

Dalam perkembangan ilmu-ilmu sosial, kekuasaan telah dijadikan subjek penelitian dalam berbagai empiris pengaturaneluarga (kewenangan orangtua), kelompok-kelompok kecil (kewenangan kepemimpinan informal), dalam organisasi seperti sekolah, tentara, industri dan birokrat (birokrasi dalam organisasi pemerintah) dan masyarakat luas atau organisasi inklusif, mulai dari masyarakat yang paling primitif sampai dengan negara, bangsa-bangsa modern atau organisasi (kewenangan politik).

Dimensi Kekuasaan

Untuk memahami gejala politik kekuasaan secara tuntas maka kekuasaan dapat ditinjau dari enam dimensi, yaitu:

  • Potensial dan aktual; seorang yang memiliki sumber-sumber kekuasaan seperti kekayaan, tanah, senjata, pengetahuan, dsb dapat dikatan mempunyai kekuatan. Sedangkan seseorang dikatakan mempunyai kekuasaan aktual jika dia telah menggunakan sumber-sumber kekuasaan yang dimilikinya kedalam kegiatan politik secara efektif.
  • Konsensus dan paksaan; alasan untuk menaati kekuasaan paksaan adalah berupa rasa takut. Sementara itu, alasan untuk menaati kekuasaan konsensus pada umumnya berupa persetujuan secara sadar dari pihak yang dipengaruhi.
  • Positif dan negatif; kekuasaan positif adalah penggunaan sumber-sumber kekuasaan untuk mencapai tujuan yang dipandang penting dan diharuskan, sedangkan kekuasaan negatif ialah penggunaan sumber-sumber kekuasaan untuk mencegah pihak lain dalam mencapai tujuannya yang tidak hanya dipandang tidak perlu, tetapi juga merugikan pihaknya.
  • Jabatan dan pribadi; pada masyarakat maju dan mapan baik jabatan maupun kualitas pribadi yang menduduki jabatan merupakan sumber kekuasaan. Sebaliknya, pada masyarakat yang sederhana dalam struktur kekuasaan kualitas pribadi lebih menonjol dari pada kekuasaan yang terkandung dalam jabatan.
  • Implisit dan eksplisit; kekuasaan implisit adalah pengaruh yang tidak dapat dilihat, tetapi dapat dirasakan. Sedangkan, kekuasaan eksplisit adalah pengaruh yang secara jelas terlihat dan dapat dirasakan.
  • Langsung dan tidak langsung; kekuasaan langsung ialah penggunaan sumber untuk mempengaruhi pembuat dan pelaksana keputusan politik dengan melakukan hubungan secara langsung. Sedangkan kekuasaan tidak langsung ialah penggunaan sumber untuk mempengaruhi pembuat dan pelaksana keputusan politik melalui perantaraan pihak lain yang diperkirakan mempunyai pengaruh yang lebih besar.

Tags: Pengertian, Sumber, Teori, Legitimasi, Dan Dimensi, Kekuasaan

Loading...
10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia

10 Ide Unik Melipat Handuk, Nomer 5 Wajib Dicoba

Orang kreatif selalu mempunyai banyak ide, bahkan benda sepele pun bisa menjadi sesuatu seni yang unik dan enak dipandang mata. Misal saja handuk, benda yang biasanya dipakai untuk mengeringkan badan setelah mandi ini ternyata bisa dijadikan seni yang unik. Yaitu dinamakan seni melipat handuk.

close

Mengenal Vebma

Apa itu Vebma? Vebma adalah sebuah media yang di peruntukkan untuk siapapun yang ingin menulis, membagikan ide, pengetahuan dan info apa saja untuk di ketahui umum umum.

Apa yang anda dapat?

Kamu akan di bayar untuk setiap View yang dihasilkan artikel yang kamu tulis.

Apa saja yang bisa kamu tulis?
Kamu bisa menuliskan apa aja yang ingin kamu ketahui dan kamu pelajari untuk kamu bagikan.

Advertiser
hello@vebma.com