CERPEN : STAGNASI

Romance 5 months ago
CERPEN : STAGNASI

cerpen - stagnasi

Hawa dingin yang sejak tadi hadir menggigit kulit membuatku terlunta begitu saja di jalan sepi malam ini. Sejauh ini, suasana disekitarku teramat menggelisahkan. Hanya berteman sepi dan pendar lampu malam keemasan.

“Sepi,” Batinku.

Aku tak tahu mengapa, jalan Suprapto ini begitu lengang, bahkan seribu kali lebih lengang daripada biasanya. Membuat sepi banyak hal, termasuk hatiku – walau sebenarnya aku menyukai kesepian ini.

Kali Mberok sudah terlewat ratusan langkah di belakangku. Dan sialnya, sampai saat ini aku tak tahu arah mana yang akan kutuju. Hanya berharap, semoga aku bisa mendapatkan ketenangan sekecil apapun itu. Tapi aku sungguh salah, Berjalan-jalan di kawasan kenangan ini, akan membuatku terus dihantui kata hati yang membodohi diri sendiri.

Kenangan? Sama sekali aku tak ingin mengingatnya lagi.

Aku terus berjalan. Di depan Gereja Blenduk, aku berhenti.

Aku ingat. Dulu, aku selalu menghabiskan senja di tempat ini, menikmati tiap lekuk bangunan gagah yang masih tetap sangar sampai malam ini. Menelusuri bentuk kubahnya – yang bagiku, selalu menyimpan berjuta keindahan. Dan terakhir, memandang biasan-biasan sinar mentari yang akan tenggelam.Dan, disinilah pertama kali kita bertemu. Aku yang kala itu tengah menikmati kesendirian di ujung senja, begitu terpesona dengan langkah anggunmu saat kau lewat didepanku. Rambut sepinggangmu berkibar ditiup angin sore.

Begitu mengesankan.

Aku berusaha mencari-cari sebuah kerlingan di sudut matamu. Mujur, kau menatapku.

Kau terpana, aku terpesona.

Hingga senyuman yang menyemburatkan merah pipi dan lesung pipitmu menyadarkankubahwa saat itu,aku masih berada di dunia. Detik itu juga, kau lemparkan sejuta karangan bunga di hatiku. Membuatku akhirnya berani berkenalan denganmu.

“Hei kau,siapa namamu?” Aku berteriak pelan, mengejarmu. Jujur, aku sendiri terkejut atas sikap baruku, Mengapa diriku jadi begitu berani seperti ini? Biasanya, aku hanya terpendam dalam angan-angan kosong tiap hatiku tertambat pada seorang gadis. Membodohi atas sikapku yang begitu pengecut. Tapi sekarang? Aku benar-benar berani?

Kau menoleh.

“Aku?” Dengan ragu, kau bertanya sambil menunjuk dirimu sendiri. Aku mengangguk dalam-dalam.

“Namaku, Mei.”

“Meiliyana.”

Tiba-tiba, suara klakson motor di belakangku membuat tubuhku terlonjak. Membuatku cepat sadar, itu hanya kenangan tiga tahun silam.

Hatiku mengerut. Kenyataanya, aku masih menyimpan rindu terhadap kenangan dulu. Itulah sebabnya, aku tak ingin mengingat-ingat kenangan itu. Menelusurinya, hanya akan membuatku merasakan banyak hal, termasuk sakit hati dan perasaan yang lebih dari sekedar mengkal.

Kuputuskan untuk berhenti berjalan, dan duduk di atas aspal yang mulai dibasahi embun dini hari.

Aku menyulut sebatang rokok yang baru saja kuambil dari saku bajuku. Sebenarnya, aku sangat lapar. Kulihat di tepi jalan depan toko yang temaram, di sana, ada pedagang nasi goreng ditemani dua orang pembeli, pria dan wanita. Mungkin, mereka sepasang suami istri yang sedang kelaparan, terlihat dari cara makan mereka yang begitu lahap. Ah, persetan dengan keadaan mereka. Andai aku tak ingin sendiri, sudah pasti aku akan menghampiri mereka, setidaknya untuk mengobati perih di lambungku.

Aku membalik pergelangan tangan.

“Jam satu,”Batinku pendek.

Seharusnya, pada jam-jam ini, kereta api akan berhenti atau sekedar lewat di Stasiun Tawang yang terletak tidak jauh lagi dari tempat ini. Aku hapal dengan jadwal kereta api. Saat masih anak-anak, aku teramat suka melihat kereta api berjalan, melambai-lambaikan tangan kepada penumpang, takpeduli orang-orang didalam kereta akan melihatku atau tidak. Bagiku, mendengar suara kereta sajasudah membuat sensasi yang amat menenangkan. Deru mesin itulah juga, yang membuatku dulu saat masih anak-anak, selalu terjaga dari tidurku. Demi mendengar gemuruh suara yang perlahan menjauh dari telinga.

Aku bangkit, ingin rasanya segera menjauh dari sini. Melupakan begitu banyak kenangan yang tersimpan. Tapi sia-sia, Aku menyadari satu hal; Mana mungkin kita akan melupakan sesuatu yang telah bersatu dalam diri kita? Kesadaran itulah yang membuatku terus berjalan,masih tanpa tujuan.

Tiga tahun yang lalu, tempat ini menjadi favorit bagi kita – setelah perkenalan demi perkenalan, pendekatan demi pendekatan terlewat. Kita sering mereguk indahnya senja sambil berbonceng sepeda onthel. Menikmati tiap jengkal kebersamaan. Sama-sama melihat surya membias di air Kali Mberok, dan ketika sudah lelah, aku akan mengajakmu istirahat di hamparan rumput dekat stasiun Tawang. Melihat kereta api berjalan sambil menikmati Wingko Babat hangat kesukaanmu.

Begitu indah, begitu mengesankan.

“Kau manis sekali.”

Kataku sambil mengunyah Wingko. Kau tersenyum, membuatku merasa seolah sedang berada di surga.

Ah,jangan menggodaku, Rendra.”

Kau tertawa sambil mengukirkan lesung di pipimu.

Amat menggemaskan.

Sore itu, rencananya akan kuungkapkan satu hal kepadamu.Teringat, sejak pagi aku telah menyiapkan kata-kata yang pantas dan romantis, menulis ulang kata-kata tersebut di kertas lusuh yang kini berada di saku celanaku. Hanya untuk mengungkapkan satu hal; maukah kau menikah denganku. Tapi, aku mendadak gagu.Aku takut suaraku terdengar ganjil di telingamu. Dan yang paling aku takutkan, kau tak sudi ada di sampingku lagi.

“Mei.”

Sejenak kesepian menggantung. Hanya kereta api yang baru saja lewat didepan kita meninggalkan deru mesin yang merambat pelan, menjauh.

Kau menoleh.

“Ada apa?”

Aku menelan ludah, hambar. Rasa gurih Wingko seakan ikut merembes keluar bersama keringat dinginku. Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru – warna kesukaanmu tentunya. Kotak yang sejak satu bulan ini telah kusiapkan, hanya berharap, semoga harapan bukan hanya tinggal harapan.

“Kita akan menikah,” Aku menyeriangi pucat. Sambil menyodorkan kotak biru berisi cincin tepat di hadapanmu.

Bodoh, benar-benar bodoh. Mengapa kalimat itu yang keluar? Rutukku habis-habisan dalam hati. Aku tak tahu, apakah kalimat itu merupakan sebuah pertanyaan atau pernyataan, terlalu sulit untuk mencari sebuah definisi sekarang ini.

Kau tertawa, lalu bergumam lirih – di sela-sela bunyi alarm kereta api yang terdengar lantang dari tempat kita duduk.

“Jika memang akan, kenapa tidak?”

Malam itu, alarm kereta api sebenarnya terdengar seperti biasa. Tapi sungguh, bagiku,suara itubagai pertanda bahwa sebentar lagi, kereta kencana akan menjemputku bersamamu.

Hatiku lagi-lagi bergetar pilu – tiga tahun telah berlalu.

Aku begitu menikmati lamunanku, hingga aku baru sadar, stasiun Tawang berdiri teramat megah di depan.

Menyusuri jalanan depan stasiunTawang terlihat terang di pusatnya.Hanya menyisakan remang-remang dari tempatku berjalan. Dari sini bisa kulihat beberapa orang terlihat sibuk berjalan kesana kemari, menggendong tas sambil matanya tak lepas dari layar canggih yang tergenggam di tangan mereka.

Aku tertawa dalam hati ketika melihat orang-orang ini. Setidaknya aku berkesimpulan, ada banyak hal yang tanpa kita sadari membuat kita menjadi begitu primitif, begitu arogan, bahkan cenderung membuat dunia kita semakin sempit. Seperti saat ini – beberapa orang sedang tekun dengan dunianya sendiri, tanpa peduli sebenarnya dunia yang ada di hadapanya begitu rindu untuk disaksikan.

“Kenapa?” Aku melenguh perlahan, percuma aku berusaha terlihat kuat di hadapan gelap malam. Semua itu sia-sia.

Aku menggeram dalam hati. Tapi tak lama, entah mengapa tiba-tiba aku jatuh berlutut persis di depan stasiun ini. Menangis. Membuat orang-orang yang sedang asyik tadi sejenak menoleh ke arahku. Tapi, lantas kembali menekuni dunia mereka sendiri – sudah kubilang.

Begitulah, setelah kita menikah, kupikir akan ada banyak kebahagiaan tersaji didepanku. Akan ada kenyamanan yang selalu menghampiri setiap aku merasa goyah. Dan akan tersedia begitu banyak pelipur lara tiap kali kurasa pilu.

Nyatanya aku salah.

Kebahagiaan itu, semua kesenangan itu, entah kenapa begitu cepat berlalu. Pertengkaran demi pertengkaran menjadi santapan kita tiap hari, cacian dan makian entah sudah berapa ribu kali keluar dari mulut kita. Tapi, walaupun kenyataanya seperti itu, kita tak perlu menyesali keputusan yang telah kita buat untuk menikah. Bukankah kita menikah atas dasar cinta? Bukan atas dasar apa-apa? Lalu mengapa kau tega selingkuhi aku, Meiliyana? Istriku?

Kenapa?

Aku menghapus air mataku yang mengalir begitu deras, tak pantas lelaki sepertiku menangis, di hadapan banyak orang pula. Tapi tak bisa, semakin kuhapus air mataku, semakin aku tergugu. Aku menyerah. Ah, biar saja kata orang aku adalah pengemis cinta, biar saja kata mereka aku cengeng. Karena menurutku, cinta itu harus sekali, ya, harus sekali.

Aku ingat pertengkaran kita sore tadi, saat aku menemukan begitu banyak SMS mesra di telepon genggammu.

“Apa ini, Mei?” Aku bertanya kepadamu sambil menunjukkan layar itu tepat dihadapan matamu. Sejenak, kau tergagap-gagap. Seolah baru menyadari, mengapa tiba-tiba telepon genggammu berada di tanganku. Ingin rasanya aku menumpahkan segala emosiku saat itu.

“Kau selingkuhi aku, Mei?”

Kemarahan yang memuncak tak lantas membuatku kalap. Biasanya, kita lantas beradu mulut, mempertengkarkan banyak hal. Tapi kali ini aku menangkap gejala lain di matamu. Aku memilih bersabar karena menginginkan sebuah kejujuran, bahkan kalau bisa, sebuah pengakuan.

“Apa, apakah kau selingkuh?” Aku tersendat-sendat.

Kau terisak.

“Mengapa kau begitu tega?”

“Maafkan aku,Mas.” Kau menangis sesenggukan dan memeluk diriku, aku tak bergerak sedikitpun.

“Mengapa kau begitu tega?” Aku bertanya untuk kedua kalinya, berharap ada jawaban dari bibirmu.

“Mengapa kau begitu tega, Mei? Jawab,Mei!”

Aku berteriak. Sungguh-sungguh meminta penjelasan darimu.

Kebekuan mendadak tercipta di antara kita. Kau melepas pelukanmu. Sebenarnya aku tak tega melihatmu menangis, tapi ini sudah keterlaluan. Bukankah aku laki-laki? Dan bukankah laki-laki juga ingin di mengerti? Kau harus tahu itu.

“Ini semua gara-gara kamu Mas.” Tiba-tiba matamu berkilat-kilat.

Apa? Setelah semua ini terjadi, kau malah menyalahkanku?

“Andai kita punya anak mas, andai aku telah mengandung, andai...”Mulutmu tiba-tiba bungkam. Seperti ada sebuah beban yang begitu besar mencekik kerongkonganmu.

“Andai..”Matamu menatap nanar ke arahku.

“Andai apa, Mei?” Aku berteriak. Aku merasa tengkukku dingin.

“Andai kau tidak mandul,Mas.”

Jelas sudah.

Dadaku serasa disayat sembilu, seolah dunia ini tiba-tiba berputar.

Wahai, setelah kau selingkuh, kau bilang seperti itu padaku?

Tak masalah jika kita bertengkar. Bagiku itu semua memang sudah menjadi kodrat bagi suami-istri. Tapi, kau bahkan tega mencampakkan harga diriku dengan mulutmu, seolah aku ini laki-laki yang tak punya rasa malu. aku ingin menangis, tega-teganya kau membalas cintaku selama ini dengan omongan itu. Tapi urung, aku hanya ingin terlihat tegar di matamu, itu saja.

Kau menangis. Aku mematung.

Andai aku tidak mandul. Cukup jelas dan tegas. Aku menyadari semuanya, entah mengapa Tuhan selalu punya takdir yang menyakitkan. Ketika kebahagiaan sudah kudapatkan bersamamu, tiba-tiba sebuah bencana menggoyang bahtera kita. Tiga tahun kita merindukan buah hati. Bahkan, kau pernah bilang sesaat setelah kita duduk bersanding di pelaminan.

“Aku ingin punya anak dua, Mas.” Lalu, kau tersenyum amat lebarnya.

Jujur aku begitu terpukul ketika sebulan yang lalu, kita bersama-sama mengunjungi dokter kepercayan kita. Bertanya banyak hal, yang intinya; mengapa kau tak kunjung hamil? Dan sebuah jawaban terdengar bagai petir di telingaku. Aku mandul.

Dan hari-hari selanjutnya, kau bersikap begitu dingin. Seolah antara kau dan aku ada jarak sekian mil. Kau begitu asyik dengan dunia mayamu, dunia penuh tipuan. Hingga secara tak sengaja, aku membaca sebuah SMSyang begitu mesra. Dengan gambar seorang laki-laki yang begitu gagah.

Aku masih mematung di sela-sela tangismu, marah bercampur canggung.

“Aku akan pergi.” Ucapku singkat sambil berlalu darimu. Entah aku akan pergi selamanya darimu, ataukah pergi untuk sementara, mengobati banyak hal. Termasuk mengenang apa yang telah terjadi di antara kita.

Aku masih tergugu ketika suasana di stasiun Tawang semakin ramai. Aku menengok jam tanganku. Jam tiga.

Aku sebenarnya ingin memutuskan banyak hal malam ini. Aku ingin pergi sejauh mungkin, entah kemana. Yang pasti, aku harus membuat hatiku berdamai dengan banyak hal. Membuat prinsip baru; cinta tak harus satu kali.

Tapi, aku yakin diriku takkan mampu membagi perasaan yang telah ada sejak aku bertemu denganmu. Bohong jika selama ini bertengkar denganmu adalah karena benci padamu. Justru aku teramat mencintaimu.Cuma, aku ingin kau sadar satu hal, cinta bukan hanya soal perasaan, harus ada sesuatu bernama logika yang bermain di sana. Kau tahu itu bukan?

Masalah kau selingkuh, itu bisa diselesaikan dengan baik-baik. Aku yakin, cintamu masih ada untukku. Ada gunanya juga mengenang semua ini. Setidaknya, aku masih setia kepadamu. Sebesar apapun sakit hati ini. Aku menyesal telah meninggalkanmu, sejahat-jahatnya dirimu, aku percaya, bahwa kau adalah pendamping terakhirku.

Aku tersenyum, sudah saatnya pulang. Rasa lelah bercampur pusing mendera kepalaku. Aku terhuyung-huyung di jalan depan stasiun. Hingga tiba-tiba, sebuah kendaraan menderu kencang dari arah depanku.

Tags: Cerpen, Fiksi

Loading...
10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia

10 Ide Unik Melipat Handuk, Nomer 5 Wajib Dicoba

Orang kreatif selalu mempunyai banyak ide, bahkan benda sepele pun bisa menjadi sesuatu seni yang unik dan enak dipandang mata. Misal saja handuk, benda yang biasanya dipakai untuk mengeringkan badan setelah mandi ini ternyata bisa dijadikan seni yang unik. Yaitu dinamakan seni melipat handuk.

close

Mengenal Vebma

Apa itu Vebma? Vebma adalah sebuah media yang di peruntukkan untuk siapapun yang ingin menulis, membagikan ide, pengetahuan dan info apa saja untuk di ketahui umum umum.

Apa yang anda dapat?

Kamu akan di bayar untuk setiap View yang dihasilkan artikel yang kamu tulis.

Apa saja yang bisa kamu tulis?
Kamu bisa menuliskan apa aja yang ingin kamu ketahui dan kamu pelajari untuk kamu bagikan.

Advertiser
hello@vebma.com