Pengaruh Langgam Arsitektur Eropa pada Hotel Niagara Lawang

Sejarah 2 years ago
Pengaruh Langgam Arsitektur Eropa pada Hotel Niagara Lawang

Hotel Niagara yang terdapat di Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur adalah satu dari banyak bangunan kolonial yang meninggalkan jejak di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Arsitek dari Hotel Niagara ini adalah Fritz Joseph Pinedo, orang Brazil yang menjadi arsitek CCCL (Pusat Kebudayaan Perancis) Surabaya. Bangunan ini memiliki lima lantai dan dibangun pada sekitar tahun 1918. Hotel Niagara awalnya dirancang sebagai vila pribadi milik keluarga Liem Sian Joe, pengusaha Tionghoa yang kaya raya pada era Hindia Belanda. Namun seiring perkembangan waktu, bangunan ini sekarang berfungsi menjadi hotel.

Dari luar, hotel ini memakai material yang didominasi oleh batu bata yang diekspose. Penerapan batu bata ekspose ini mencerminkan adanya pengaruh langgam arsitektur Amsterdam School yang berkembang di Hindia Belanda setelah tahun 1900. Langgam ini dicirikan dengan adanya material yang dominan berasal dari batu bata yang diekspose dan dengan bentukan yang lebih statis. Bentukan semacam ini cukup tersebar di Indonesia pada masa itu karena dibawa oleh orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia. Banyak insinyur Eropa yang memperkenalkan langgam arsitektur ini di Indonesia, salah satunya arsitek Hotel Niagara ini sendiri, yaitu Fritz Joseph Pinedo.

Selain langgam arsitektur Amsterdam School, penerapan langgam ekspresionisme dengan ciri bentukan Art Deco juga terdapat pada ekspose balok pada lebihan-lebihan atap yang berfungsi sebagai peneduh jendela. Langgam ekspresionisme sendiri dulunya adalah sanggahan terhadap langgam yang dulunya sudah ada di Eropa, yaitu langgam international style (di mana bentukan kubus adalah ciri utamanya). Seperti namanya, ekspresionisme lebih menekankan pada ekspresi dan seni. Ada tiga unsur dari ekspresionisme, yaitu Art Deco, Art Nouveau, dan Art and Craft. Art Deco adalah seni dengan bentukan-bentukan geometris. Art Nouveau adalah seni dengan mengedepankan bentukan dinamis seperti sulur-sulur tumbuhan. Art and Craft menunjukkan karya seni buatan tangan yang ada di dalam bangunan.

Pada bagian atas jendela, ada bentukan ekspresif berupa lengkungan-lengkungan beton yang dipadukan dengan bentuk lengkungan dari bagian atas jendela. Selain itu, railing pagar balkon pada lantai-lantai atas menunjukkan adanya motif dengan bentukan geometric yang merupakan salah satu ciri dari langgam Ekspresionisme Art Deco. Di sini terdapat perpaduan bentuk dari persegi dan lingkaran. Sedangkan, di sisi lain bangunan, terdapat motif berupa sulur-sulur tumbuhan pada kaca jendela dan bagian atas jendela hotel yang menunjukkan adanya unsur Ekspresionisme Art Nouveau. Unsur plafon pada Hotel Niagara ini menggunakan balok-balok yang diekspose. Hal ini menunjukkan ciri Art Deco pada plafon ini.

baca juga: Kayutangan, Saksi Bisu Perkembangan Peradaban dan Perdagangan di Kota Malang

Pada interior bangunan, elemen-elemen arsitekturalnya menunjukkan adanya ekspresi-ekspresi. Misalnya pada motif lantainya. Salah satu motif lantai pada Hotel Niagara ini menunjukkan adanya unsur Art Nouveau yang ditunjukkan dengan sulur-sulur tumbuhan dan juga bentukan-bentukan dinamis lainnya. Selain itu, lantai pada ruang yang lain memiliki motif yang berbeda. Ada motif lantai yang lebih mengarah pada bentuk geometris seperti persegi yang disusun berjajar membentuk satu motif border. Unsur geometric seperti itu menunjukkan adanya pengaruh dari Art Deco.

Pada dasarnya, ada dua langgam arsitektur utama yang mempengaruhi desain bangunan Hotel Niagara ini. Kedua langgam itu adalah Amsterdam School dan Ekspresionisme. Keduanya adalah peranakan arsitektur dari langgam-langgam yang tersebar di Eropa pada masa itu. Langgam itu dibawa masuk ke Indonesia lewat sejarah penjajah Eropa dan cukup berkembang pesat di Indonesia.


Tags: Sejarah, Hotel Niagara, Lawang, Malang, Arsitektur

Loading...
10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia

10 Ide Unik Melipat Handuk, Nomer 5 Wajib Dicoba

Orang kreatif selalu mempunyai banyak ide, bahkan benda sepele pun bisa menjadi sesuatu seni yang unik dan enak dipandang mata. Misal saja handuk, benda yang biasanya dipakai untuk mengeringkan badan setelah mandi ini ternyata bisa dijadikan seni yang unik. Yaitu dinamakan seni melipat handuk.

close

Mengenal Vebma

Apa itu Vebma? Vebma adalah sebuah media yang di peruntukkan untuk siapapun yang ingin menulis, membagikan ide, pengetahuan dan info apa saja untuk di ketahui umum umum.

Apa yang anda dapat?

Kamu akan di bayar untuk setiap View yang dihasilkan artikel yang kamu tulis.

Apa saja yang bisa kamu tulis?
Kamu bisa menuliskan apa aja yang ingin kamu ketahui dan kamu pelajari untuk kamu bagikan.

Advertiser
hello@vebma.com